Sabar
Allah Ta'ala berfirman, ''Sesungguuhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya...'' (QS. 33: 57), dengan ayat ini Allah mengabarkan bahwa Dia disakiti, maka Yang Mahasuci disebut Yang Maha Penyabar (ash-shabur) dalam menerima berbagai hal yang menyakitkan dari ciptaaan-Nya. Sabar adalah menahan diri dari mengadu kepada selain Allah Ta'ala dan mengandalkan yang bukan Allah. Menahan diri dari mengadu kepada Allah Ta'ala bukanlah sabar, karena Allah Ta'ala meminta hamba-Nya untuk menyampaikan derita mereka kepada-Nya, dan Dia mampu untuk tidak menciptakan derita yang Dia ciptakan bagi mereka. Dia mengatakan tidak ada seorang pun yang lebih sabar Allah dalam menerima rasa sakit. Sabar merupakan salah satu maqam dari maqam-maqam yang bisa lenyap dari masuknya ahli surga ke surga dan masuknya ahli neraka ke neraka. Sabar Ilahi, kuasanya lenyap dengan lenyapnya dunia. Tanpa nama Sang Penuntut balas dan Yang mahaberat siksa-Nya, hal tersebut tampak manusiawi, karena kita melihat lenyapnya Yang Mahasabar, dan rahmat-Nya didahului dengan murka-Nya. Dengan lenyapnya dunia, lenyap pula rasa sakit setiap orang yang disakiti. Penyebab siksa adalah rasa sakit, dan rasa sakit itu telah lenyap dengan lenyapnya dunia, maka rahmat muncul dan murka-Nya terangkat. Rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk, dan saya berprasangka demikian kepada-Nya. Dia berkata, ''Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka berprasangka baiklah kepada-Ku,'' Dia mengabarkan dan menyuruh untuk berprasangka, tanpa prasyarat khusus, baik bagi hak prasangka, maupun yang lain.
Sabar ada beberapa macam, sabar dalam Allah (fillah) jika disakiti di dalam-Nya. Sabar bersama Allah (ma'allah) jika melihat yang disiksa dalam azab. Sabar atas Allah ('alallah) adalah keadaan melenyapkannya wujud dirinya demi Tuhannya. Sabar dengan Allah (billah) ketika Al-Haqq menjadi sabarnya itu sendiri , sebagaimana Dia menjadi pendedngar dan pengelihatan nya. Sabar dari Allah (minallah), yakni kondisi pengangkatan daya dan kekuatan darimu. Sabar akan Allah ('anillah), sabar yang maqamnya paling agung, yakni sabar yang lenyap dengan datangnya kematian. Orang yang bersabar seperti ini menisbatkan sabar pada dirinya seperti menisbatkan nama Ash-Shabur kepada Allah, karena itu sabar nya terangkat dengan lenyapnya dunia. mereka mengambil sabar dari Allah, seperti anda mengambil ilmu dari si anu, maka anda ada di dalamnya, sebagaimana Dia.
Sedangkan sabar yang dipahami umum, terjadi perlawanan terhadap kehendak paksa Ilahi, juga adanya etika terhadap Allah. Allah Ta'ala tidak akan menyengsarakan hambanya kecuali supaya ia merendahkan diri di hadapan-Nya untuk mengangkat kesengsaraan yang telah Dia timpakan kepadanya. Sebagian orang berkata sambil menangis ketika lapar, ''Allah membuatku lapar supaya aku menangis,'' dan ia menangis kepada-Nya, para pembesar tidak menahan dirinya dari mengadu kepada Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar, mereka adalah orang-orang yang menahan dirinya dari mengadu kepada selain Allah. Tidakkah anda melihat alim ulama saw. yang berkata, '' jika Allah mengujimu, mintalah kepada-Nya kekuatan, sebab itulah yang akan menghapus pengaruh buruk dari kesengsaraan jika cobaan itu hilang. Maka, kekuatan menghapus bencana dan pengaruhnya.
Komentar
Posting Komentar