"Setiap kita adalah ibrahim, dan Ibrahim mempunyai 'Ismail'. Ismail adalah simbolisasi dari kelemahan manusia sebagai makhluk yang dhaif, gila hormat, haus pangkat, lapar kedudukan, dan nafsu berkuasa. Semua sifat daif itu harus di sembelih atau di korbankan. Ismailmu mungkin hartamu, ismailmu mungkin jabatanmu, Ismailmu mungkin gelarmu, ismailmu mungkin egomu, Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh ismail, tetapi Ibrahim hanya di minta Allah untuk membunuh rasa 'kepemilikan' terhadap ismail karena hakikat nya semua adalah milik Allah."
Kadang kepala ini melebihi kapasitasnya, sedangkan aku terus melengkapi prosesnya. Padahal tak pernah ada yang memikirkannya, sayangnya, hanya satu dari ribuan yang meyakinkan. Aku tak peduli menang, tak peduli kalah. Proses tetap bagian dari kehidupan, meski ribuan kali jatuh dalam peperangan. Dicaci dari seribu kekalahan untuk apa? Kemenangan hanya berarti jika kau berguna, bukan kemenangan tanpa guna. Kali ini tak rapi. Tulisannya berantakan. Tapi bukankah berantakan adalah bentuk dari kehidupan itu sendiri? Kan?
Izinkan aku mencintaimu dalam sunyi dengan kata suara yang tak berbunyi Bolehkah aku menghirup sedikit aromamu Bila nnti aku buta aku takkan lupa Persilahkan aku, mengasihimu di antara bunga bila nnti aku rela, cinta ini ku kubur dibawah sekuntum kamboja
Komentar
Posting Komentar